|
Ito Merintis Tanam Padi dalam Pot |
Kompas | Senin, 12 Januari 2009 | 14:16 WIB
KETIKA petani lainnya sibuk berburu benih unggul padi hibrida saat musim tanam tiba, Ito Sumitro (53) justru menempuh cara berbeda. Ia memilih padi lokal yang kemudian ia silangkan menjadi varietas unggul. Hasil kerja Ito, dipamerkan pada pertemuan kelompok tani se-Jabar di Desa Talagasari, Kecamatan Kawali, Ciamis, belum lama ini. Saat itu Ito memboyong tanaman padi dalam pot (parepot) hasil persilangannya pada setiap musim tanam (MT).
"Ini hasil kawin silang turunan kedelapan dari padi Jalawara dan padi gundul atau sriputih. Keduanya jenis padi lokal Indramayu," kata ayah empat anak yang kini tinggal di Dusun Kalensari RT 01 RW 01, Desa Kalensari, Kecamatan Widasari ini.
Suami dari Ny Jamilah ini lantas bercerita, varietas unggulan turunan kedelapan atau biasa dikenal dengan F-8 itu tak didapatkannya dengan mudah. Itu hasil kerja kerasnya selama lima tahun. "Hasil dari 54 kali persilangan pada 10 kali musim tanam di tiga petak sawah seluas 500 tumbak di Dusun Kalensari," kata jebolan SMP ini.
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Sekolah Lapangan Iklim buat Petani |
|
MI|Rabu, 14 Maret 2012 00:00 WIB
RIZALDI muda tak pernah berencana mempelajari meteorologi. Ketika ditemui di kampus Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), ia berkisah Jurusan Meteorologi Pertanian ialah pilihan ketiga saat mendaftar kuliah. "Tapi setelah didalami, ilmu ini sangat menarik. Banyak hal baru yang saya tidak tahu," ujar pria berkacamata ini. Saat itu, Rizaldi tergabung pada angkatan kedua di jurusan tersebut, kemudian berlanjut ke program pascasarjana di jurusan dan kampus yang sama. Kecintaannya pada dunia iklim dan pertanian dilandasi keyakinan bahwa iklim dan pertanian merupakan kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Kualitas panen sangat bergantung pada iklim. Berbagai jenis tanaman sebenarnya dapat dibudidayakan secara bergantian seiring dengan perubahan musim yang tentu saja sangat dipengaruhi iklim. "Sesungguhnya negara-negara majulah yang menyebabkan tingginya emisi karbon sekarang karena merekalah yang pertama memulai industrialisasi di negara mereka. Setelah revolusi industri di awal 1900-an, negara-negara maju telah memulai proses industrialisasi di negara mereka," kata Rizaldi.
|
|
Selengkapnya...
|
|
SORTASI: SEBUAH INOVASI YANG DILEMATIK? |
|
DI TERAS RUMAHNYA yang terbuat dari kayu dan berlantaikan tanah, Ibu Maryati (43 tahun), salah satu warga Desa Sumberagung, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, tengah sibuk memisahkan kedelai-kedelai hitam yang utuh dan bagus dengan yang rusak. Pekerjaan ini sederhana dan mudah dilakukan oleh siapa saja. Cukup berbekal peralatan sederhana, seperti nampan dan tenggok kecil. Dia mengaku biasa melakukan pekerjaan sortasi ini setiap harinya sebanyak 20-30 kilogram. Dia memperoleh uang sebesar Rp. 500,- per kilogram hasil sortasi. Dalam seminggu dia sendiri mampu menyortir sebanyak 200 kilogram. “Biasanya saya mengambil 60 kilogram kedelai hitam. Dari 60 kilogram, kalau keadaan kedelainya bagus, setelah disortir menghasilkan 55 kilogram. Setiap kilogramnya saya memperoleh Rp. 500,-. Saya selesaikan selama 2-3 hari.”
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
SEPENGGAL DIALOG SORE DI RUMAH PETANI PESERTA SEKOLAH LAPANGAN |
|
Penanya: “Kenapa ibu-ibu ikut menjadi peserta sekolah lapangani?” Bu Hartati: “Karena ibu-ibu di sini terlibat langsung dalam pekerjaan di sawah.” Bu Nami: “Karena kami ingin mendapatkan ilmu …” Penanya: “Apakah tidak repot, ibu-ibu kan punya pekerjaan rumah tangga yang lain?” Bu Nami: “Tidak juga, sebelum berangkat ke sekolah lapangan semua pekerjaan rumah tangga seperti menyiapkan sarapan pagi dan anak sekolah sudah saya selesaikan dulu.” Penanya: “Berarti repot juga jadinya, karena ada beban tambahan …” Bu Hartati: “Memang, tapi itu tidak seberapa dibandingkan ilmu yang didapat …” Penanya: “Apakah suami ibu tidak keberatan ibu ikut sekolah lapangan?” Bu Hartati: “Justru suami saya mendukung dengan melakukan beberapa pekerjaan di rumah dan lahan yang biasa saya kerjakan.”
|
|
Selengkapnya...
|
|
MEMOTRET JUGA HARUS MENGGUNAKAN OTAK DAN HATI |
|
Saat ini kamera foto sangat beragam merek, jenis, dan spesifikasinya, juga harganya. Dari yang sederhana dan murah hingga yang canggih berharga mahal. Dengan sekali sentuh, bahkan untuk orang yang saat itu belum pernah mengambil gambarpun, seketika itu jadilah ia seorang ‘fotografer’. “Tolong mas, saya difoto pakai kamera ini,” pinta seorang pemilik kamera yang ingin difoto. “Gimana caranya, mana yang dipencet?” tanya orang yang dimintai tolong yang ternyata masih awam, setidaknya dengan kamera bukan miliknya itu. “Ini pak tombol off/on-nya dan ini tombol untuk motretnya,” jawab pemilik kamera. “Oke, siaaap? Satu… Dua… Tiga… (cekrek!)” teriak si fotografer memberi aba-aba. Foto bukan lagi “barang mahal” baik dalam arti kiasan maupun sesungguhnya. Pada era foto analog –- yang masih menggunakan film negatif, kemampuan seseorang memfoto secara kualitas dapat diukur dengan berapa banyak foto yang “sukses” secara teknis maupun pesannya dari 1 rol film negatif yang digunakannya. Semakin banyak semakin kelihatan kemahiran si fotografer. Namun sekarang, dengan mudah orang akan mengambil banyak gambar -- ratusan hingga ribuan, tergantung kapasitas penyimpannya --, dan dengan enteng dan tanpa rasa sayang akan menghapusnya untuk gambar-gambar yang dianggap tidak bagus atau tidak ia sukai. Toh orang lain tidak tahu. Juga biaya produksinya tidak begitu signifikan selisihnya. Cuma masalah baterei saja…
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
|
|
|
|
JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL |